Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Kabupaten Batu Bara tahun 2026 sukses menorehkan sejarah baru yang sangat layak dicatat dalam buku panduan “Cara Instan Meramaikan Acara”. Acara keagamaan yang sakral ini berhasil disulap menjadi panggung mobilisasi massa paling rapi abad ini, sebuah prestasi yang memicu decak kagum sekaligus elus dada dari praktisi hukum sekaligus tokoh pemuda Batu Bara, Teddi Mahendra Siregar S.H,.
Dalam keterangan resminya, Teddi Mahendra Siregar S.H,. memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya—tentu saja dengan nada sarkasme yang kental—kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Batu Bara yang dinilai sangat “kreatif” dan “jenius” dalam mengelola antusiasme masyarakat.
Babak I: Nestapa Wakil Bupati VS Kejayaan Sang Bupati
Keajaiban gelaran MTQ ini dimulai dari dinamika jumlah penonton yang sangat fluktuatif, seolah mengikuti hierarki jabatan. Saat malam pembukaan yang dipimpin oleh Wakil Bupati Batu Bara, suasana di lokasi acara begitu syahdu, saking syahdunya hingga angin malam pun terdengar lebih riuh ketimbang tepuk tangan penonton. Area tribun dan lapangan tampak begitu lapang, menyuguhkan pemandangan yang sangat estetis bagi siapa saja yang menyukai keheningan.
Namun, mukjizat luar biasa terjadi pada malam penutupan. Begitu mengetahui bahwa Bupati Batu Bara sendiri yang akan hadir dan memimpin penutupan pada Sabtu (16/5/2026) malam di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Indrasakti, Kecamatan Air Putih, lapangan tersebut mendadak berubah menjadi lautan manusia.
”Kita harus angkat topi pada aura magis Bapak Bupati. Begitu beliau yang dijadwalkan hadir, rakyat Batu Bara mendadak mendapatkan hidayah kolektif untuk berbondong-bondong memadati lokasi. Luar biasa. Wakil Bupati tampaknya harus banyak belajar bagaimana cara memancarkan energi penarik massa ini,” sindir pria yang kerap di sapa Hendra Siregar sembari tersenyum kecut.
Babak II: “Hidayah” yang Datang Lewat WhatsApp dan Ancaman Google Form
Namun, pepatah mengatakan tidak ada keajaiban yang terjadi tanpa kerja keras. Belakangan terungkap bahwa “hidayah” kolektif yang membuat lapangan penuh sesak itu tidak datang dari langit, melainkan mengalir melalui jaringan seluler alias pesan berantai WhatsApp.
Sebuah instruksi bernada “himbauan suci” beredar luas dari lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Batu Bara. Isinya tidak main-main: seluruh Kepala Sekolah, Guru ASN, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), hingga PPPK Paruh Waktu (Honor) diwajibkan hadir tanpa alasan.
Sistem absensi yang diterapkan pun jauh lebih canggih dan ketat ketimbang pengawasan ujian nasional:
Pukul 19.30 WIB: Peserta wajib mengambil foto di lokasi (sebagai bukti wajah mereka benar-benar terpapar angin lapangan). Tautan Google Form: Foto dan laporan kehadiran wajib diunggah secara digital malam itu juga. Hard Copy Absensi: Sebagai pelengkap, bukti fisik absen harus dikumpulkan secara kolektif melalui koordinator sekolah masing-masing.
“Saya sangat kagum dengan efisiensi birokrasi Dinas Pendidikan kita,” puji Teddi Mahendra. “Di saat mutu pendidikan kita butuh perhatian, energi para pejabatnya justru habis untuk mengurus traffic Google Form dan memastikan para guru tidak mangkir dari konser religi massal ini. Ini adalah bukti nyata bahwa pengabdian guru di Batu Bara tidak hanya diuji di dalam kelas, tapi juga diuji ketahanannya berdiri di lapangan sepak bola demi estetika dokumentasi pimpinan.”
Menurut Hendra Siregar S.H., metode mobilisasi bernada ancaman halus ini adalah bentuk pemaksaan gaya baru yang mencederai nilai-nilai luhur MTQ itu sendiri. “MTQ itu syiar agama, ibadah. Kalau anggotanya datang karena takut kontrak PPPK-nya dievaluasi atau takut disanksi kepala dinas, itu namanya bukan mencari berkah, tapi mencari aman. Kasihan para guru kita, siang mengajar, malam dipaksa jadi cheerleader birokrasi,” tambahnya.
Babak III: Misteri Logo Inalum dan Teka-Teki Anggaran
Komedi satir di MTQ Batu Bara ternyata tidak berhenti pada urusan mobilisasi massa. Hendra Siregar S.H. juga menyoroti keunikan yang terpampang nyata pada papan juara dan piagam penghargaan yang diterima oleh para pemenang. Di sana, logo PT Inalum (Persero) bertengger dengan sangat gagah mendampingi logo Pemkab.
Kehadiran logo perusahaan BUMN raksasa ini pun langsung melahirkan teori konspirasi finansial di kalangan masyarakat. Teddi mempertanyakan, siapakah sebenarnya “pahlawan” di balik pendanaan acara ini?
1. Apakah MTQ ini dibiayai penuh oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Batu Bara yang bersumber dari uang rakyat?
2. Apakah Pemkab Batu Bara sedang melakukan aksi ‘hemat pangkal kaya’ dengan memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Inalum?
3. Atau yang paling parah, anggarannya bersumber dari APBD, namun logonya tetap dipasang sebagai bentuk ‘keramah-tamahan’ politis yang tidak gratis?
”Ini teka-teki yang sangat menarik. Jika acara ini menggunakan dana APBD, mengapa ada logo Inalum di piagam juara? Apakah Pemkab Batu Bara kekurangan dana sehingga harus ‘nebeng’ nama besar BUMN? Atau jangan-jangan, ini adalah proyek patungan yang transparansinya sengaja dibuat seburam kaca spion yang berdebu?” tanya Hendra retoris.
Hendra Siregar menegaskan bahwa transparansi anggaran adalah harga mati, bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan di bawah meja. Masyarakat Batu Bara berhak tahu ke mana perginya setiap rupiah uang daerah, dan seberapa besar kontribusi nyata dari dana CSR perusahaan yang beroperasi di wilayah mereka.
Tuntutan dan Desakan Hukum
Dalam Penutupnya, Teddi Mahendra Siregar S.H. mendesak beberapa hal penting kepada Pemerintah Kabupaten Batu Bara agar lawakan birokrasi ini tidak terus berlanjut di masa depan:
1. Audit Transparansi Anggaran: Meminta Inspektorat dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengaudit secara menyeluruh anggaran pelaksanaan MTQ Kabupaten Batu Bara 2026, termasuk memperjelas status kepemilikan dana dan kerja sama dengan PT Inalum.
2. Hentikan Intimidasi Birokrasi: Meminta Kepala Dinas Pendidikan Batu Bara untuk meminta maaf kepada seluruh tenaga pendidik atas pemaksaan kehadiran yang dibungkus dengan ancaman absensi digital.
3. Fokus pada Substansi, Bukan Seremonial: Mengingatkan Bupati dan Wakil Bupati agar fokus pada kinerja nyata dan pelayanan publik, ketimbang sibuk berkompetisi mengumpulkan massa bayaran demi kepuasan visual semata.
”Kita ingin Batu Bara ini maju karena sistemnya yang sehat, bukan karena jago memanipulasi keramaian lewat Google Form. Semoga pada acara berikutnya, Pemkab bisa mengumpulkan massa karena masyarakat memang cinta dan rindu pada pemimpinnya, bukan karena masyarakat takut kehilangan pekerjaan,” pungkas Hendra dengan menohok.






